Pengaruh dan Gejala Kehamilan dengan Kista

Bagi ibu yang tengah mengandung, kesehatan janin menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Melahirkan dengan sehat dan lancar tentu menjadi harapan yang ibu diinginkan. Namun sayangnya, banyak hal yang bisa terjadi di kala kehamilan, dimana salah satunya adalah gangguan kehamilan dengan kista. Kista umumnya muncul di indung telur dan jarang ada yang memiliki sifat ganas. Kemunculan kista cukup sering terjadi, namun biasanya belum terdeteksi sampai ibu mengikuti tes ultrasound. Pada beberapa kasus, kemunculan kista bisa saja tidak disadari hingga menghilang dengan sendirinya.

Kehamilan Dengan Kista

Kehamilan dengan kista yang perlu diwaspadai adalah munculnya rasa sakit di bagian perut atau abdomen serta pada bagian panggul. Gejala- gejala yang lebih serius bisa terjadi ketika kista ovarium semakin membesar. Membesarnya kista dapat berakibat pada gejala lain seperti sering buang kecil, rasa kembung di perut, rasa sakit ketika melakukan hubungan intim, mudah merasa kenyang dan sakit pada bagian tulang ekor. Pada kasus yang lebih parah, kista ovarium dengan ukuran besar bisa saja pecah dan menyebabkan pendarahan di bagian dalam tubuh. Berbeda dengan kista yang berukuran kecil, pecahnya kista tersebut umumnya tidak menyebabkan tanda- tanda atau gejala lain pada ibu hamil.

Saat ibu dinyatakan memiliki kista pada indung telurnya, dokter akan melakukan pantauan pada perkembangan kista tersebut. Hal ini dilakukan untuk menentukan tindakan apa yang perlu dilakukan demi menjaga kesehatan ibu dan janinnya. Ibu juga akan diminta secara rutin melakukan pemeriksaan ke dokter serta menjalani tes ultrasound untuk mengamati ke arah mana kista berkembang. Apakah semakin mengecil atau sudah hilang sepenuhnya.  Kehamilan dengan kista dapat berakibat buruk ketika kista tumbuh semakin besar dan menekan rongga perut hingga menghalangi jalur napas. Selain itu ada pula kista yang tumbuh dan beresiko menghalangi jalannya bayi keluar. Jika memang demikian, dokter akan menyarankan dilakukannya operasi setelah bayi berusia 5 bulan. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya keguguran pada ibu hamil karena usia bayi yang masih rentan.

Submit Your Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *